Hai wanita

Berbagai Tes Pemeriksaan Penunjang yang Perlu Ibu Hamil Ketahui

Periksa kehamilan direkomendasikan untuk ibu hamil setidaknya melakukan 4x atau lebih kunjungan antenatal dengan Bidan/ Dokter kandungan untuk memantau kehamilan dan kesehatan ibu-janin.

Periksa kehamilan dilakukan minimal 1x di trimester I (usia kehamilan 1-3 bulan), minimal 1x di trimester II (usia kehamilan 4-6 bulan), dan minimal 2x di trimester III (usia kehamilan 7-9 bulan). Rekomendasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas perawatan yang diberikan kepada ibu dan janin di seluruh rangkaian pemeriksaan selama kehamilan.

Setiap kehamilan, dalam perjalanannya mempunyai risiko mengalami penyulit atau komplikasi. Oleh karena itu, periksa kehamilan harus dilakukan secara rutin, termasuk melakukan pemeriksaan penunjang/ laboratorium. Pemeriksaan penunjang tersebut selama kehamilan, persalinan, dan nifas merupakan salah satu komponen penting untuk mengidentifikasi risiko komplikasi yang mungkin terjadi. Pemeriksaan penunjang yang perlu ibu hamil ketahui untuk dilakukan pada kunjungan antenatal meliputi:

1.Golongan Darah dan Tes Kadar Hemoglobin Darah

Ibu Hamil
image source : image.freepik.com

Pemeriksaan darah turut membantu mendiagnosa kasus-kasus pada kehamilan, diantaranya ibu hamil wajib melakukan pemeriksaan hemoglobin dan golongan darah. Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga untuk mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-waktu diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan. Pemeriksaan hemoglobin (Hb) juga dilakukan bertujuan untuk mengetahui kadar sel darah merah pada ibu hamil. Kadar Hb normal kehamilan diantara 11—15 gr%. Ibu hamil rentan menderita anemia karena meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin. Anemia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan menurunnya kadar hemoglobin (Hb) di bawah normal (<10 gr%). Kurangnya asupan zat besi pada kehamilan mengakibatkan sejumlah risiko yang merugikan, seperti keguguran, bayi lahir premature, bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), bayi lahir mati, perdarahan pasca persalinan, hingga anak tumbuh pendek (stunting) dibanding teman seusianya. Penyebab anemia dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium. Kemenkes (2013) menyarankan pemeriksaan Hb pada kehamilan dilakukan sebanyak 2x diantaranya pada trimester I (disertai pemeriksaan golongan darah) dan trimester III. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di praktik bidan/ dokter kandungan/ puskesmas/ klinik/ rumah sakit.

2. Pemeriksaan Protein Urine

image source : image.freepik.com

Kehamilan dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang terjadi pada ginjal umumnya setelah 20 minggu kehamilan. Perubahan tersebut juga berdampak pada peningkatan kadar protein dalam urine. Dari Journal Nephrology (2018) menyatakan penilaian proteinuria merupakan tes kunci dalam kehamilan untuk mengevaluasi kesehatan ginjal dan sistemik serta merupakan salah satu indikator terjadinya preeklamsi/eklamsi pada ibu hamil. Kasus preeklamsi/eklamsi merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan janin pada saat kehamilan, persalinan, maupun pasca bersalin. Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal penting dan harus dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah ≥ 140/90 mmHg) pada kehamilan dan preeklampsia (hipertensi disertai peningkatan proteinuria >300mg/24 jam atau pada metode dipstik menunjukan hasil positif 1+ atau lebih). Ditemukannya proteinuria berlebih (>300mg/24 jam) juga menyebabkan sejumlah komplikasi lain pada ibu hamil seperti perdarahan otak, gagal hepar, edema paru-paru, cidera ginjal akut, hingga kejang/ eklamsi. Dari Kemenkes (2014) menganjurkan pemeriksaan protein urine pada ibu hamil dilakukan pada trimester II dan III atas indikasi. Pemeriksaan urine dipstik banyak digunakan dalam praktik karena metodenya sederhana dan lebih ekonomis. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di praktik bidan/ dokter kandungan/ puskesmas. Tes akan lebih spesifik jika menggunakan metode tes diagnostik dengan sensitivitas tinggi lainnya, umumnya dilakukan di fasilitas kesehatan lengkap seperti klinik/ rumah sakit.

BACA JUGA :

3. Pemeriksaan Kadar Gula Darah

image source : image.freepik.com

Setiap kehamilan memiliki faktor risiko terjadinya masalah kesehatan, salah satunya adalah diabetes gestasional atau diabetes melitus (DM) selama kehamilan. Diabetes gestasional adalah hiperglikemia dengan kadar glukosa darah di atas normal yang terjadi selama masa kehamilan. Kategori tes gula darah berdasarkan Konsensus Perkeni 2011 adalah: bukan DM (<90 mg/dL), belum pasti DM (90-199 mg/dL), DM (>200 mg/dL). Menurut Jounal of Clinical Diabetes (2007) Wanita dengan diabetes gestasional meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan dan melahirkan.  Pada ibu penderita diabetes melitus gestasional meningkatkan risiko penambahan berat badan berlebih, terjadinya preklamsia/eklamsia, lahir sesar, komplikasi kardiovaskuler. Setelah persalinan, penderita berisiko berlanjut terkena diabetes tipe 2 atau terjadi diabetes gestasional yang berulang pada kehamilan yang akan datang. Bayi yang lahir dari ibu dengan diabetes gestasional berisiko tinggi untuk menderita makrosomia (BB lahir >4000g) sehingga meningkatkan cidera kelahiran, bayi berisiko tinggi untuk terkena hipoglikemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, sindrom gangguan pernafasan, polistemia, obesitas, dan diabetes melitus tipe 2. Kemenkes (2014) menganjurkan ibu hamil yang dicurigai menderita diabetes melitus harus dilakukan pemeriksaan gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada trimester I, sekali pada trimester II, dan sekali pada trimester III. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di praktik bidan/ dokter kandungan/ puskesmas/ klinik/ rumah sakit.

4. Ultrasonografi (USG)

image source : image.freepik.com

USG merupakan pemeriksaan diagnostik untuk memantau pertumbuhan janin dan mendeteksi komplikasi klinis terutama ketika pemindaian dilakukan pada awal kehamilan. Dalam rekomendasi antenatal care (ANC) 2016, setiap ibu hamil oleh WHO direkomendasikan untuk melakukan 1x USG sebelum kehamilan 24 minggu. Bertujuan untuk memperkirakan usia kehamilan sebenarnya, deteksi abnormalitas pada janin (letak, posisi, dan presentasi janin), dan adanya kehamilan kembar. WHO tidak merekomendasikan USG secara rutin tanpa indikasi. Penilaian usia kehamilan yang akurat dapat mendukung intervensi dan manajemen komplikasi kehamilan. Penilaian dugaan komplikasi seperti keguguran terancam, kehamilan ektopik, lokasi plasenta, preeklamsi, persalinan prematur, hingga perdarahan intrapartum, menjadikan kemampuan USG dapat memfasilitasi tepat waktu untuk memanajemen komplikasi kehamilan, terutama untuk temuan yang membutuhkan intervensi mendesak. Pemeriksaan USG dapat dilakukan di praktik dokter kandungan/ puskesmas/ klinik/ rumah sakit.

5. Pemeriksaan HIV

image source : image.freepik.com

Pada peraturan Kemenkes Nomor 97 tahun 2014, di daerah epidemi HIV meluas dan berpotensial, tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan wajib menawarkan tes HIV kepada semua ibu hamil secara inklusif pada pemeriksaan laboratorium rutin lainnya ketika kunjungan antenatal atau menjelang persalinan. Di daerah epidemi HIV rendah, penawaran tes HIV diprioritaskan pada ibu hamil yang menderita infeksi menular seksual/ IMS dan tuberkulosis/ TB secara inklusif ketika kunjungan antenatal atau menjelang persalinan. Setiap ibu hamil ditawarkan untuk dilakukan tes HIV dan segera diberikan informasi mengenai resiko penularan HIV dari ibu ke janinnya. Apabila ibu hamil tersebut HIV positif maka dilakukan konseling Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA). Bagi ibu hamil yang negatif diberikan penjelasan untuk menjaga tetap HIV negatif diberikan penjelasan untuk menjaga HIV negative selama hamil, menyusui dan seterusnya. Pemeriksaan HIV hanya dilakukan di puskesmas dengan program tes HIV ibu hamil dan rumah sakit besar.

Sumber:

  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pemeriksaan Laboratorium untuk Ibu Hamil, Bersalin, dan Nifas.
  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual.
  • Matthias Arnaldo Cassia, Giulia Daminelli, Marta Zambon, Manuela Cardellicchio, Irene Cetin & Maurizio Gallieni. 2018. Proteinuria in pregnancy: Clinically driven considerations. Journal of Nephrology SAGE 4: 1—5.
  • M Jennifer Perkins., et al. 2007. Perspectives in Gestational Diabetes Mellitus: A Review of Screening, Diagnosis, and Treatment. Jounal of Clinical Diabetes  25(2).
  • WHO. 2018. WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience: Ultrasound Examination. WHO: Maternal and Child Survival Program.
error: Content is protected !!
WhatsApp Tanya Bidan ?