Hai wanita

Laxative abuse, penyalahgunaan obat pencahar untuk menurunkan berat badan

Obat pencahar atau laxative bekerja untuk membuang air dan limbah di usus tetapi tidak dengan membuang kalori dan lemak dari tubuh. Jadi obat pencahar tidak efektif untuk menurunkan berat badan atau mengontrol berat badan..

Melakukan cara diet tidak tepat mengakibatkan terjadinya gangguan pola makan atau eating disorder yang dapat berdampak buruk pada seseorang yang menjalaninya. Dorongan untuk memiliki tampilan fisik yang ideal, salah satunya adalah dengan melakukan perubahan kebiasaan makan yang umumnya menyimpang. Orang-orang kadang menggunakan obat pencahar karena mereka percaya dapat menghindari kenaikan berat badan dengan menginduksi diare dan mencegah penyerapan makanan.

Obat pencahar atau laxative digunakan untuk mengatasi sembelit/ sulit BAB. Penjelasan dari Brown University-Health Services (2017) mengungkapkan cara kerja laxative ada dengan melunakkan fases atau dengan merangsang saraf dinding usus besar dan menyebabkan kontraksi usus untuk mendorong keluar fases. Penyerapan nutrisi dari makanan dalam tubuh tetap bekerja karena laxative beroperasi di dekat ujung usus. Namun laxative mempengaruhi penyerapan air dan elektrolit (sodium, potassium). Laxative umumnya obat aman jika digunakan dalam waktu terbatas.

Laxative abusive adalah perilaku penyalahgunaan obat pencahar yang bertujuan untuk menurunkan berat badan. Laxative merupakan jenis obat yang paling sering disalahgunakan, dijual bebas tanpa membutuhkan resep dokter. Seseorang mungkin tanpa sengaja secara teratur menggunakan laxative karena merasa sembelit. Perasaan sembelit ini lah yang bisa menyesatkan, mungkin saja seseorang makan terlalu sedikit atau memiliki kebiasaan makan yang buruk sehingga menciptakan sensasi sembelit. Begitu pola dimulai, pengguna akan merasa sulit untuk berhenti meminumnya bahkan jika mereka mau. Secara fisik dan psikis akan mulai bergantung pada obat pencahar.

Kebiasaan sering mengonsumsi laxative dapat membentuk toleransi tinggi dosis obat sehingga pengguna akan selalu meningkatkan dosis lebih tinggi untuk efek kontraksi yang sama. Penjelasan dari Brown University-Health Services (2017) jika obat laxative digunakan secara tidak bijak dapat menimbulkan kerugian kesehatan.

  1. Sembelit

Penyalahgunaan laxative dapat menghilangkan respon otot dan saraf pada usus. Usus menjadi melebar dan tidak efektif dalam pergerakan usus untuk memindahkan fases.

2. Kembung dan edema

Laxative menyebabkan hilangnya cairan pada tubuh. Ketika hal tersebut terjadi, tubuh mencoba melindungi diri dari dehidrasi dengan cara menahan cairan sehingga perut terasa kembung dan berat badan sedikit naik.

3. Dehidrasi

Kadar air tubuh di bawah normal terjadi ketika terlalu banyak cairan yang hilang karena diare yang disebabkan oleh obat laxative. Gejala pada penderita akan mengalami rasa haus tinggi, mulut kering, sakit kepala, pusing, keringat dingin, badan lemas.

4. Ketidakseimbangan elektrolit tubuh

Natrium, kalium, dan klorida dikeluarkan dari tubuh ketika diare terjadi dalam waktu lama. Elektrolit dalam tubuh digunakan untuk menjaga fungsi jantung, otot, dan saraf agar tetap bekerja dengan baik. Meski komplikasi parah jarang terjadi, ketidakseimbangan elektrolit dapat mengarah komplikasi ke jantung melemah, detak jantung tidak teratur, dan gagal jantung.

5. Fases berdarah

Penyebabnya adalah iritasi pada usus besar menyebabkan fases keluar bersama darah.

6. Gangguan fungsi usus

Setelah penyalahgunaan laxative jangka panjang, usus menjadi kehilangan pola normal dan respon saraf untuk mengeluarkan fases sebagaimana mestinya. Pemulihan dapat dilakukan namun biasanya proses akan berjalan lambat dan terapi yang lama.

7. Prolaps rektum

Diare kronis yang disebabkan laxative bisa menyebabkan bagian dalam usus menonjol keluar melalui lubang anus. Kondisi tersebut membutuhkan perawatan bedah untuk mengembalikan posisi usus ke semula.

Segera hentikan penggunaan obat laxative sepenuhnya daripada mencoba untuk mengurangi perlahan. Minum setidaknya 6-10 gelas air putih sehari. Konsumsi banyak sayuran, salad, buah, dan biji-bijian untuk membantu merangsang usus. Pada beberapa pengguna yang sudah kecanduan akan menunjukan gejala withdrawl yang berlangsung 1—3 minggu setelah menghentikan laxative total. Gejala akan timbul seperti sembelit, kembung, retensi cairan, dan kenaikan berat badan sementara (karena retensi cairan). Begitu gejala hilang, tubuh akan mulai mengatur diri kembali.

Baca juga:

Sumber:

error: Content is protected !!
WhatsApp Tanya Bidan ?